Artikel:KMyMoney vs GnuCash

Pendahuluan

Pengguna Windows telah lama menikmati berbagai program seputar akunting dan pengatur finansial pribadi, seperti Quicken, Microsoft Money, TurboTax, TaxCut, dll. Di Linux pun, walau agak ketinggalan tapi lambat laun mulai bermunculan berbagai program gratis maupun komersial yang ditujukan untuk mengelola keuangan Anda. Dua program open source yang paling patut diperhitungkan saat ini adalah KMyMoney dan GnuCash.

KMyMoney, sesuai namanya, terinspirasi dari program serupa besutan Microsoft, diciptakan khusus untuk lingkungan KDE, dan kini telah mencapai versi 0.8.7. Sementara GnuCash program yang telah lebih lama ada di belantara open source, berbasis GTK dan sudah berada di versi 2.0.5 saat artikel ini ditulis. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, dan yang satu mungkin lebih cocok digunakan daripada yang lain untuk kasus/kondisi tertentu. Artikel ini mencoba mengulas perbandingan keduanya.

Dalam perbandingan, beberapa fitur tidak dites, seperti misalnya budgeting atau fitur bisnis GnuCash, karena tidak tersedia di KMyMoney. Fasilitas internet banking pun tidak diuji karena belum ada institusi keuangan di tanah air yang mendukungnya.

Perbedaan konsep

Jika Anda pernah atau terbiasa menggunakan program seperti Microsoft Money, maka KMyMoney lebih cocok untuk Anda. Konsep-konsep seperti kategori pengeluaran, pihak terbayar (payee/receiver) dan institusi keuangan sama-sama ada di KMyMoney, tapi tidak ada di GnuCash. Di GnuCash, “everything is an account”, pengkategorian termasuk untuk pengeluaran dan pihak ketiga dilakukan dengan membuat sub-subakun. Saya sendiri terus terang memiliki sedikit preferensi ke arah akun, karena rata-rata sistem akuntansi di perusahaan bekerja dengan cara demikian. Tapi tentu saja Anda bisa memiliki kesukaan yang berbeda. GnuCash lebih cocok digunakan jika Anda mengerti sedikit akuntansi (catatan: ada baiknya juga tetap belajar akuntansi, sebab bisa berguna meski Anda tidak memakai program).

Kadang-kadang keberadaan konsep terbayar juga agak membuat repot, misalnya dalam transaksi perpindahan uang antarakun kita sendiri (mis: menarik uang di ATM dari akun tabungan ke akun dompet) maka kita harus tetap mengisi pihak terbayar, yang sebetulnya adalah kita sendiri. Atau saat kita banyak melakukan transaksi kecil-kecil dan tidak ingin melakukan tracking terhadap pihak terbayar (mis: membeli makan siang di berbagai tukang penjual makanan kecil-kecil).

Fitur

KMyMoney memiliki kelebihan dalam dukungan yang lebih lengkap terhadap internet banking, walaupun sayangnya ini belum bisa dimanfaatkan di Indonesia. Selain itu memiliki fitur-fitur yang berhubungan dengan investasi (memantau harga dan transaksi saham, mencatat dividen, dsb) walau mungkin tidak semua dari pembaca membutuhkannya.

Fasilitas impor dan ekspor KMyMoney pun lebih baik, misalnya bisa mengimpor dari GnuCash dan mengimpor/ekspor dengan format standar QIF/OFX (yang banyak digunakan program lain dan bank). GnuCash sendiri dapat mengimpor dari QIF/OFX, tapi saat ini tidak dapat mengekspornya. Anda hanya dapat mengekspor daftar akun (bukan transaksi) dalam format XML. Perlu Anda pertimbangkan jika Anda ingin bisa berpindah-pindah program dan membawa serta data Anda. Walaupun dari pengalaman pribadi, mengimpor dari program lain (termasuk menggunakan format standar QIF/OFX) kurang memuaskan bagi saya, dikarenakan adanya perbedaan struktur kategori, dll; kadang jika data transaksi kita belum terlalu banyak, mungkin lebih baik jika kita mulai dari awal atau menginput ulang saja.

Untuk menyimpan file pun, KMyMoney mendukung proteksi/enkripsi dengan password sementara GnuCash tidak. Penyimpanan ke file di KMyMoney terasa lebih cepat daripada GnuCash.

GnuCash unggul dalam budgeting dan fitur bagi bisnis kecil (dapat mencatat pelanggan, supplier, serta mengurus penggajian dan pengeluaran karyawan). Selain itu, pelaporan di GnuCash juga lebih lengkap dan mendukung grafik, sementara KMyMoney saat ini hanya menghasilkan laporan teks.

Antarmuka pengguna

Masalah antarmuka pengguna (user interface) mungkin sifatnya sangat subjektif dan bergantung selera. Ini pula yang cukup membedakan antara KMyMoney dan GnuCash.

KMyMoney mengikuti antarmuka Microsoft Money, misalnya dalam mengentri transaksi tampilannya mirip seperti buku cek. Di Amrik memang secara tradisi orang sering sekali menggunakan cek untuk berbagai macam pengeluaran sehari-hari termasuk yang kecil-kecil, sementara di Indonesia praktis kebiasaan ini tidak dijumpai untuk kasus perorangan, karena lebih sulitnya membuka akun giro/cek dan biaya yang terkait dengan penulisan selembar cek.

KMyMoney juga, menurut saya, kadang mencoba berbuat “terlalu pintar” dalam antarmukanya, sehingga malah membuat kesal. KMyMoney sering sekali menghilangkan/mengabaikan apa yang sudah kita entrikan begitu saja, tanpa peringatan. Misalnya saat memasukkan transaksi Split, Anda perlu menekan tombol Split yang memunculkan window baru, memasukkan tiap entri pengeluaran sampai nilai total tercapai, mengklik tombol Finish, lalu mengklik Enter sekali lagi. Jika tidak, transaksi yang tadi baru Anda masukkan akan hilang jika Anda mengklik ke tempat lain.

Beberapa tindakan di KMyMoney pun tidak ada shortcut keyboardnya, seperti membuat transaksi baru, menandai setiap transaksi dalam rekonsiliasi, sehingga mouse wajib digunakan. Beberapa tindakan lain bahkan belum bisa dilakukan karena belum diimplementasi, misalnya jika Anda salah memasukkan transaksi ke akun yang keliru, lalu ingin mengganti akunnya. Maaf, tidak bisa, silakan hapus lalu entri lagi transaksi tersebut.

Singkatnya, Anda perlu sedikit membiasakan diri dulu dengan antarmuka KMyMoney.

GnuCash, di lain pihak, lebih sederhana dan “tidak macam-macam” antarmukanya. Dalam mengentri transaksi lebih mirip seperti di spreadsheet. Karena tidak perlu mengisi kolom Pay To, dan ada fasilitas Quick-Fill untuk mengisikan otomatis detil transaksi sesuai dengan yang mirip yang terakhir pernah ada, maka saya bisa mengentri transaksi dengan lebih cepat.

GnuCash memiliki tab-tab, kita dapat membuka register lebih dari satu akun sekaligus.

Namun KMyMoney memiliki satu kelebihan: dalam memasukkan kategori, autocompletenya dapat mencari dengan lebih baik, tidak hanya berdasarkan nama awalnya saja. Misalnya, jika kita memiliki akun/kategori Expenses:Auto:Fuel, maka di KMyMoney kita bisa mengetik “fu” untuk mencarinya, sementara di GnuCash kita harus mengetik “exp” di mana akan muncul banyak kategori Expenses yang lain.

Bug dan kestabilan

Dari pengalaman pribadi memakai kedua program ini masing-masing selama beberapa bulan, dirasakan memang masih ada bug-bug yang cukup mengganggu pada keduanya. Kedua program ini kadang bingung dalam mengupdate perhitungan saldo, apalagi jika ada transaksi yang diedit dengan diubah-ubah tanggal atau nomor urutnya. Kita perlu merestart program agar si program menghitung ulang saldo kembali sehingga benar. Ini tentu cukup mengecewakan.

Secara garis besar, KMyMoney saat ini mengandung lebih banyak bug dan lebih sering crash. Di GnuCash saya belum pernah mengalami crash. Bahkan cukup sering program KMyMoney gagal ditutup baik dengan menekan Ctrl-Q maupun dengan mengklik ikon penutup windownya, sehingga harus dibunuh prosesnya secara paksa. Atau pernah pula saya mengalami file data yang baru dibuka butuh disave, walaupun belum diapa-apakan.

Beberapa kekurangan lain

Kedua program tidak memiliki fasilitas autosave maupun undo, jadi Anda perlu sering-sering melakukan save dan berhati-hati dalam mengubah data.

KMyMoney tidak mendukung pemberian nomor urut pada transaksi, sehingga jika ada beberapa transaksi di hari yang sama, urutannya tidak jelas dan kadang (sering!) tidak sesuai dengan keinginan kita. Ini menjengkelkan. Namun pemberian nomor urut akan didukung mulai versi 0.9.0 mendatang.

Dan sebetulnya saya berharap agar program-program ini dapat menggunakan backend database relasional saja daripada harus menyimpan dalam format file tersendiri. Dengan demikian, data keuangan kita tentu akan lebih dapat diakses berbagai program lain. Namun ini mungkin tidak akan terealisasi dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Saya menyimpulkan bahwa di antara keduanya, GnuCash merupakan program yang lebih matang dan stabil. Saya sendiri kini memilih GnuCash alih-alih KMyMoney. Setelah mula-mula memilih KMyMoney dikarenakan kesukaan terhadap KDE, dan memakainya selama kurang lebih tujuh bulan, bug-bug dan antarmuka yang kadang membuat kesal membuat saya beralih ke GnuCash. Barangkali setahun dua tahun lagi saya mungkin akan melirik kembali KMyMoney untuk melihat perkembangan yang ada nanti.

Resita has written 703 articles